Iran Tak Mau Ikuti Perjanjian Nuklir Lagi?
Pada tahun 2015 Iran menyepakati untuk perjanjian nuklir dan menandatanganinya. Namun, kali ini nyatanya Iran mengatakan mereka tidak akan lagi mematuhi semua aturan yang sudah disepakatinya pada tahun 2015 yang lalu.
Iran menyatakan dalam pernyataannya bahwa mereka tidak akan lagi untuk mengamati keterbatasan kapasitasnya untuk pengayaan, tingkat pengayaan, stok bahan yang diperkaya, atau penelitian dan pengembangan.
Pernyataan Ira ntersebut keluar setelah rapat kabinet Iran di Teheran dilangsungkan.
Sebelumnya di bawah perjanjian nuklir Iran, negeri Persia tersebut sepakat untuk membatasi segala aktivitas sensitif terkait nuklir dan mengizinkan dunia internasional menginspeksinya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi ekonomi terhadapnya. Perjanjian itu ditandantangani oleh 6 negara, yakni Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China.
Namun, keadaan berubah setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menarik AS dari perjanjian tersebut dan membuat sanksi ekonomi kembali berlaku. Langkah Trump tersebut membuat hubungan Iran dan AS kembali meruncing.
Puncak eskalasinya adalah pada saat AS melancarkan serangan ke bandara internasional Baghdad yang menyebabkan kematian Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Quds.
Media pemerintah Iran mengumumkan pada hari Minggu (5/1) bahwa negara itu tidak akan lagi menghormati batas yang ditetapkan dalam kesepakatan 2015.
"Iran akan melanjutkan pengayaan nuklirnya tanpa batasan dan berdasarkan pada kebutuhan teknisnya," kata Iran dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman BBC, Senin (6/1).
Namun, pernyataan itu tidak mengatakan bahwa Iran sebenarnya menarik diri dari perjanjian dan menambahkan bahwa negara itu akan terus bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB, IAEA.
Sumber: Akurat.co

Comments
Post a Comment